Tuesday, July 7, 2015

Review Bab 2 "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu"

Bab 2

Dalam pelajaran Jawa Kuno diajarkan, derajat manusia lebih mulia dari malaikat. Alasannya adalah manusia dibuat dari tanah sedangkan malaikat dari api. Selain itu berdasarkan Ramayana Jawa Kuno derajat manusia lebih tinggi dari dewa-dewa. Oleh karena itu biasanya dewa datang hanya sebagai utusan. Tetapi sering kali dewa-dewa ini mencampuri urusan-urusan duniawi manusia. Sebagai utusan tugas dewa ini adalah menghubungi manusia lalu kembali ke kahyangan. Kahyangan sering kali diibaratkan dengan Puncak Himalaya. Pernah suatu kali Pram bermimpi tentang dirinnya yang sedang berjalan-jalan di rawa-rawa dan tiba-tiba menemukan ikan bergigi emas, sungguh menyenangkan dan mengejutkan, tetapi sayangnya hanya sebuah mimpi.


Esok harinya Pram kembali bekerja. Kira-kira jam sepuluh pagi, Pram mulai mencangkul ladang untuk menanam jagung. Saat itu matahari cukup terik sehingga membuat orang yang bekerja pada hari itu cepat sekali kehabisan tenaga. Saat sedang mencangkul, seseorang memanggil Pram dan 6 orang lainnya untuk menghadap. Salah satu dari antara 7 orang tersebut terdapat orang yang baru keluar dari opname di rumah sakit. Mereka diperintahkan untuk pergi ke Unit IV Savanajaya sambil membawa perlengkapan yang dibutuhkan. Pram pun kembali ke barak untuk mengambil perlengkapan dan bersiap untuk berangkat. Perjalanan yang harus ditempuh kira-kira 20 km dan ditambah membawa beban, sudah membuat Pram dan 6 orang lainnya cukup lelah. Pada jam 1 siang mereka beristirahat di tepi sungai Wai Apu, kemudian mh. Pada jam 1 siang mereka beristirahat di tepi sungai Wai Apu, kemudian menyebranginya. Mereka berjalan dan tak terasa sudah melewati beberapa Unit yaitu, Unit V Wanakarta, Unit II Wanareja, dan Unit XVI Indrakarya. Rumah-rumah penduduk disana memiliki tiang-tiang dari kayu dan berdinding gaba-gaba. Saat perjalanan pun mereka sempat tersesat dan mampir ke Unit XIV Bantalreja untuk meminta pentujuk.  

Dan akhirnya mereka sampai di Unit IV. Pram pun beristirahat dan saat itu terjadi wawancara.\Dalam wawancara tersebut Pram membela dirinya bahwa dia tidak bersalah atas peristiwa G30S, dan dirinya dan tapol lainnya di Pulau Buru juga tidak merasa keadilan dalam proses hukum yang mereka alami. Pram berkata bahwa dia hanya menulis buku yang rata-rata isinya berkaitan dengan dokumentasi sejarah atau sebuah roman. Pram berharap pemerintah tidak merusak buku-bukunya karena berguna untuk kepentingan nasional.
Setalah wawancara tersebut, datang lagi orang-orang dari Team Psikologi Universitas dan para perwira tinggi. Dalam wawancara tersebut mereka menanyakan keadaan Pram selama di Pulau Buru. Selain itu terdapat percakapan dengan seseorang yang mengaku sebagai teman lama Pram. 

Dan Pram bercerita tentang buku-buku yang ia baca selama di Pulau Buru, salah satunya adalah America terbitan Serikat Jesuit. Lalu wawancara selesai karena skorsing selesai.

Dalam masa tahanannya Pram juga sempat menerima surat dari Presiden Soeharto yang berisi masukan  dan doa bagi Pram.







No comments:

Post a Comment